Bantahan Untuk Paham Hikmatul Iman: Nabi Adam Masih Hidup (Bagian 4)


Guru Utama Lembaga Seni Bela Diri Hikmatul Iman (LSBD HI), Dicky Zainal Arifin, menggunakan argumen bahwa tidak ada dalil yang menyatakan Nabi Adam sudah wafat sehingga berkesimpulan Nabi Adam masih hidup. Pendapat sesat ini begitu diyakini oleh Ristian Al Rachmat, salah seorang murid HI. Bahkan dia tidak merasa malu untuk mengungkapkannya secara terbuka.

Keyakinan murid LSBD HI: Nabi Adam masih hidup.
Keyakinan murid LSBD HI: Nabi Adam masih hidup – Tweet.
Ristian Al Rachmat - Facebook
Ristian Al Rachmat – Facebook

Telah banyak argumen yang kami kemukakan. Namun, sayang Dicky Zainal Arifin terlalu sombong dan pengecut untuk mengakui kesalahannya. Berikut kami tunjukkan tulisan dari Tuan Ahmad Hassan, pendiri Persatuan Islam (Persis) dan juga salah satu ahli hadits Indonesia, yang menyatakan bahwa semua nabi telah wafat, termasuk Nabi Adam tentunya.

Nabi ‘Iesaa sudah mati dan tidak seorangpun Nabi yang sedang hidup sekarang.

Adapun anggapan orang, bahwa Nabi Idris dan Khidlir atau Nabi Khidlir itu masih hidup, tidak ada keterangan yang shah.

Penjelasan Ahmad Hassan tentang Nabi Masih Hidup

Fatwa ini kami ambil dari Buku Soal-Jawab jilid 3, halaman 1159, Cetakan CV. Diponegoro Bandung.

NABI YANG MASIH HIDUP

SOAL: Saya minta diterangkan Qur’an dan Hadiets yang mengatakan ada lagi Nabi yang masih hidup, dan harap tuan terangkan berapa banyak lagi Nabi-nabi yang belum wafat dan dimana adanya sekarang.

Harap diterangkan supaya saya ber-iman.

JAWAB: Sebelum menerangkan mas-alah yang tuan tanya, rasanya, perlu kami terangkan Iebih dahulu beberapa perkara:

  1. bahwa pokok Agama kita, ialah Qur’an dan Hadiets yang sahieh, bukan fikiran dan bukan perasaan.
  2. bahwa di zaman ini, kalau seseorang membicarakan hal ada tidaknya Nabi lagi, terpaksa menarik nama Mirza Ghulam Ahmad Qadian, Nabinya qaum Ahmadiyah Lahore dan Qadian, lantaran ia mengaku jadi Nabi.

Kalau Qur’an dan Hadiets atau salah satunya menerangkan sesuatu maka wajib kita terima dan percaya, walaupun hal itu luar biasa atau berat pada perasaan, seperti wahyu umpamanya.

Semua Nabi-nabi mengaku dapat wahyu dari Allah. Hal menerima wahyu ini perkara ghaib yang ta’ dapat kita buktikan dengan sendiri, tetapi bisa kita terima atau dustakan dengan alasan-alasan dan sebab-sebab yang lain, seperti Nabi Muhammad, umpamanya, kita terima perkataannya yang ia utusan Allah, lantaran beberapa mu’jizatnya, yang salah satunya, ialah Qur’an. Di dalam Qur’an ada tersebut beberapa perkara yang fikiran kita memaksa kita mengakui, bahwa Qur’an ini bukan bikinan manusia

a. Susunan omongannya yang ta’ dapat ditiru oleh qaum yang paling pintar di dalam bahasa-bahasa Arab di waqtu itu, walaupun sesudah ditantang beberapa kali di dalam Qur’an sendri.

b. Isinya tentang tarikh zaman dahulu yang tidak terkenal di zaman Nabi Muhammad, tetapi di belakang kali terbukti kebenarannya.

c. Isinya tentang menerangkan, bahwa penyakit cacar itu, disebabkan oleh hama-hama yang terbang berkumpul-kumpul.

d. Isinya tentang menemukan, bahwa matahari, bumi, bulan, dan tiap-tiap sesuatu yang di udara ini ber-edar.

Dan beberapa banyak lagi hal-hal yang terus-menerus terbukti kebenarannya dari satu masa ke satu masa menurut ‘ilmu zaman masing-masing.

Lantaran itu, maka kita percaya, bahwa Nabi Muhammad itu, betul dapat wahyu dari Allah. Oleh sebab Qur’an itu betul dari Allah, maka sekalian apa yang dikatakan oleh Qur’an itu, kita percaya benar ; dan oleh sebab Nabi Muhammad itu benar pula utusan Allah, maka sekalian khabar yang terang datang daripadanya, kita percaya pula.

Tetapi kepercayaan kita kepada Qur’an ada lebih kuat daripada kepercayaan kita kepada Hadiets-hadiets, lantaran Qur’an itu, yaqin tercatat dari zaman Nabi sampai sekarang, sedang Hadiets-hadiets tidak begitu.

Oleh sebab itulah ijma’ sekalian ahli lslam, bahwa orang yang tidak percaya kepada Ayat-ayat Qur’an itu, kafir hukumnya, tetapi orang yang tidak percaya kepada Hadiets-hadiets walaupun sahieh tidak dihukum kafir.

Qur’an dan Hadiets menyuruh kita percaya, lantas kita per-caya kepada

Malaikat, walaupun pada umumnya ta’ dapat kita buktikan dengan terang.

Hari Qiamat, walaupun harinya belum sampai.

Nabi ‘Iesaa diperanakkan dengan tidak berbapa, walaupun sangat luar biasa.

Tongkat Nabi Musaa membelah laut dan menerbitkan mata air. Walaupun payah diterima oleh fikiran, kebiasaan dan perasaan.

Empat perkara yang kami sebutkan itu, bukan saja dipercaya oleh qaum Muslimin, tetapi dipercaya juga oleh Mirza Ghulam Ahmad, malah ia tambah lagi, bahwa Nabi Yahya diperanakkan dengan tidak disentuh oleh kekuatan manusia, dan Mirza ini percaya juga, bahwa Nabi Yunus hidup diperut ikan beberapa hari.

Sekarang kita kembali kepada urusan Nabi yang masih hidup. Menurut ayat ke 158 dari An-Nisaa’, bahwa Nabi ‘Iesaa telah diangkat oleh Allah ke hadrat-Nya, sedang dalam Hadiets-hadiets ada tersebut, bahwa ‘Iesaa akan turun.

Semua Hadiets-hadiets di dalam urusan itu, memakai perkataan “akan turun”. Tidak ada satupun dari Hadiets-hadiets itu memakai perkataan “zhahir” atau “akan datang” sedang di dalam urusan Mandi semuanya terpakai kalimah “akan zhahir”, tidak terpakai kalimah “akan turun”.

Jadi dari Ayat-ayat dan Hadiets-hadiets nyatalah, bahwa Nabi ‘Iesaa itu, telah diangkat dan akan turun.

Bila kita berkata : Ia akan turun, tentulah dia ada di atas.

Tiap-tiap tempat yang diluar bumi ini, dapat dikata “atas”.

Bulan di atas, bintang Mirriekh, Zuhrah, Uthaarid dan lain-lainnya, semua itu “di atas”.

Kalau orang Islam berkata ‘Iesaa di atas langit dan ia akan turun, maka yang mula-mula tertawakan, ialah Ummat Mirza, karena mereka berkata : ‘Iesaa sudah mati dan ‘Iesaa yang dikatakan akan datang itu, ialah Mirza, Nabi mereka !

Apakah mustahil seorang manusia diangkat oleh Allah ke-salah satu bintang ? Tidak sekali-kali ! bahkan tidak mustahil Allah mengangkat semua manusia yang disini kesatu alam lain.

Tetapi lantaran tidak kejadian dihadapan mata kita, maka kita merasa perkara itu terlalu berat.

Kira-kira enam puluh tahun dahulu, kalau kita berkata, bahwa dalam satu jam, seorang di Bandung bisa sampai di Jakarta, bukan sahaja orang-orang akan tertawakan, bahkan akan dikatakan gila.

Tetapi sekarang di dalam setengah jam kita bisa sampai ke Jakarta dari Bandung. Kita tidak merasa heran, lantaran kejadian itu, dihadapan kita.

Tuan boleh fikir, ada banyak lagi perkara-perkara yang dahulunya orang-orang pandang mustahil terjadi, tetapi sekarang sudah ada.

Ringkasnya yang jadi alasan bagi kita di dalam urusan agama, tidak lain, melainkan keterangan dari Qur’an dan Hadiets, bukan perasaan dan fikiran.

Tetapi ada satu jalan buat orang yang tidak mau percaya hal turunnya Nabi ‘Iesaa, yaitu menolak sekalian Hadiets-hadiets yang mengatakan ‘Iesaa akan turun dengan alasan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal:

Artinya : Tiga kitab tidak ada asal baginya : dari hal perang-perang, dan kejadian-kejadian yang akan datang, dan talsir.

Ya’ni tidak ada kitab Hadiets yang shahieh tentang cerita-cerita peperangan dan tentang kejadian-kejadian yang di tunggu-tunggu dan tentang tafsir. Siapa yang berani berpegang dengan perkataan Imam Ahmad yang sudah memeriksa Hadiets-hadiets itu, tentulah bisa ia tolak sekalian Hadiets-hadiets turunnya ‘Iesaa.

Kalau sudah ia tolak berarti tidak ada lagi ‘Iesaa yang akan datang, maupun ‘Iesaa betul-betul atau Iesaa-Iesaaan dan diwaktu itu, bolehlah ia ta’wiel Ayat yang mengatakan Allah telah angkat ‘Iesaa ke HadlratNya, dan dengan jalan itu, dapatlah ia berkata : Nabi ‘Iesaa sudah mati dan tidak seorangpun Nabi yang sedang hidup sekarang.

Adapun anggapan orang, bahwa Nabi Idris dan Khidlir atau Nabi Khidlir itu masih hidup, tidak ada keterangan yang shah.

Kalau kurang terang, boleh Tuan bertanya lagi.

A.H.

Bukti Scan Soal-Jawab Tuan Ahmad Hassan

Berikut adalah bukti scan fatwa Tuan Ahmad Hassan rahimahullah, tokoh pendiri Persis, yang menyatakan bahwa semua nabi telah wafat.

Cover luar Soal-Jawab, A. Hassan dan kawan-kawan. Jilid 3 dan 4.
Cover luar Soal-Jawab, A. Hassan dan kawan-kawan. Jilid 3 dan 4.
Cover dalam Soal-Jawab, A. Hassan dan kawan-kawan. Jilid 3.
Cover dalam Soal-Jawab, A. Hassan dan kawan-kawan. Jilid 3.
Fatwa Tuan Ahmad Hassan, pendiri Persatuan Islam, bahwa tidak ada nabi yang masih hidup.
Fatwa Tuan Ahmad Hassan, pendiri Persatuan Islam, bahwa tidak ada nabi yang masih hidup.
Fatwa Tuan Ahmad Hassan, pendiri Persatuan Islam, bahwa tidak ada nabi yang masih hidup.
Fatwa Tuan Ahmad Hassan, pendiri Persatuan Islam, bahwa tidak ada nabi yang masih hidup.
Fatwa Tuan Ahmad Hassan, pendiri Persatuan Islam, bahwa tidak ada nabi yang masih hidup.
Fatwa Tuan Ahmad Hassan, pendiri Persatuan Islam, bahwa tidak ada nabi yang masih hidup.
Iklan

4 thoughts on “Bantahan Untuk Paham Hikmatul Iman: Nabi Adam Masih Hidup (Bagian 4)”

  1. Nabi Adam Mangkat

    Pasca terbunuhnya Habil, bukan main kesedihan Nabi Adam ‘alaihissalam, Isak tangis bertahun-tahun mengiringinya. Hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniainya seorang anak sebagai pengganti Habil. Anak tersebut bernama Syits, maknanya pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena anak itu merupakan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menggantikan Habil.

    Setelah Syits menginjak dewasa, Nabi Adam ‘alaihissalam memberikan kepercayaan penuh kepadanya, segala ilmu yang diraihnya diajarkan kepada Syits. Bahkan ketika akan meninggal, Nabi Adam ‘alaihissalam memberikan wasiat kepada Syits untuk menggantikan dalam memimpin anak keturunannya untuk beribadah pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia juga diberi shuhuf (lembaran-lembaran wahyu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mentakdirkan keturunannya berlanjut. Semua manusia silsilah keturunannya berasal dari Syits, sedang anak Nabi Adam ‘alaihissalam yang lain punah (tidak berlanjut keturunannya).

    Adapun Qabil, Al-Qurthubi menukil dalam Tafsir-nya dan Ibnu Jauzi dalam Talbis Iblis, bahwa Qabil lari bersama saudara kembarnya ke daerah Adnan di Yaman. Maka datanglah Iblis menggodanya seraya berkata, “Sesungguhnya kurban saudaramu dimakan api itu karena ia menyembah api, maka buatlah tungku dan sembahlah api! Hal itu akan bermanfaat bagimu dan keturunanmu.” Selanjutnya Qabil membangun rumah penyembahan api, maka dialah yang mula-mula melakukan penyembahan api, wallahu a’lam.

    Namun yang jelas, Qabil adalah makhluk yang pertama kali masuk neraka dari kalangan manusia. Keturunannya banyak yang membuat kerusakan di bumi karena didikannya, sebagaimana Allah ceritakan dalam firman-Nya (artinya),

    وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَآ أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلاَّنَا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ اْلأَسْفَلِينَ

    “Dan berkata orang-orang kafir di neraka: “Wahai Robb kami, perlihatkan kepada kami dua makhluk yang telah menyesatkan kami dari kalangan jin dan manusia. Keduanya akan kami letakkan di bawah kaki-kaki kami, supaya keduanya menjadi orang-orang yang rendah.” (QS. Fushshilat: 29)

    Para ahli tafsir mengatakan bahwa dua makhluk itu adalah Iblis dari kalangan jin dan Qabil dari kalangan manusia. Keduanya sebagai pendahulu dan yang semula-mula mengajak masuk neraka.

    Wafatnya Nabi Adam ‘Alaihissalam

    Setelah tinggal di bumi selama 960 tahun dan sudah mempunyai banyak keturunan, tibalah saat Nabi Adam ‘alaihissalam bertemu Allah Ta’ala. Ibnu Katsir berkata, “Para ahli sejarah telah menceritakan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam tidak meninggal sehingga ia melihat keturunannya, dari anak, cucu, cicit terus ke bawah yang jumlahnya mencapai 400 ribu jiwa, wallahu a’lam.” (Qoshosh Anbiya: 43)

    Allah Ta’ala menceritakan,

    يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً

    “Wahai manusia, bertaqwalah kepada Rabb kalian, yang mana Dialah yang menciptakan kalian dari jwia yang satu dan menciptakan dari jiwa itu istrinya dan daripada keduanya, Allah memperkembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak…” (QS. An-Nisa: 1)

    Konon Nabi Adam ‘alaihissalam jatuh sakit beberapa hari, hingga pada hari Jumat datanglah malaikat untuk mencabut nyawanya dan bertakziah (mengungkapkan rasa belasungkawa) kepada pemegang wasiatnya yakni Syits. Ubay bin Ka’ab berkata,

    “Sesungguhnya ketika akan datang saat wafatnya Nabi Adam berkata kepada anak-anaknya, ‘Wahai anak-anakku, sesungguhnya aku menginginkan buah dari surga.’ Maka pergilah anak-anak Nabi Adam untuk mencarikannya. Ketika dalam perjalanan mereka bertemu dengan para malaikat yang membawa kain kafan, ramuan minyak wangi untuk mayat, kapak, cangkul, dan keranda. Para malaikat itu berkata kepada anak-anak Nabi Adam, ‘Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian kehendaki dan apa yang kalain cari?’ Mereka menjawab, ‘Bapak kami sakit, ia menginginkan buah dari surga.’ Para malaikat berkata, ‘Kembalilah kalian! Sungguh sekarang ini telah datang keputusan kematian bagi bapakmu.’ Maka datanglah para malaikat untuk mencabut nyawa Nabi Adam. Dan ketika mereka datang, mengertilah Hawa akan keperluan para malaikat itu, ia pun segera mendahului mereka untuk bertemu Nabi Adam agar Nabi Adam minta ditangguhkan pencabutan nyawanya. Namun Nabi Adam menjawab, ‘Pergilah engkau dariku, sungguh aku diciptakan sebelummu. Biarkan nyawaku dicabut oleh para malaikat Rabbku.’ Maka para malaikat itu mencabut nyawa Nabi Adam lalu memandikannya, mengafaninya, mengolesinya ramuan minyak wangi, lalu membuat galian kubur serta lahat. Selanjutnya mereka menyolatinya lalu memasukkannya ke liat kubur dan menempatkannya di lahat. Kemudian mereka menguruknya, lalu para malaikat itu berkata, ‘Wahai anak Adam, inilah tuntunan bagi kalain pada orang mati di antara kalian’.” (HR. Thabrani, 8:158, Zawa idul Musnad, 5:136, Ibnu Katsir dan Salim Al-Hilali berkata, “Hadits ini shahih.”)

    Kuburan Nabi Adam ‘Alaihissalam dan Hawa

    Ahli sejarah memperselisihkan lokasi kuburan Nabi Adam ‘alaihissalam dan Hawa. Ada yang berkata bahwa keduanya dikubur di gua Gunung Qubais dekat Masjidil Haram. Yang lainnya mengatakan di Baitul Maqdis Palestina, karena pada saat banjir melanda seluruh permukaan bumi, Nabi Nuh memindahkannya ke Baitul Maqdis, wallahu a’lam.

    Pendapat yang kuat ialah sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa dan Nur ala Darb (kumpulan fatwa ulama Saudi Arabia) bahwa semua kuburan para nabi tidak diketahui keberadaannya kecuali kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ebrada di Madinah dan kuburan Nabi Ibrahim di Palestina. Riwayat-riwayat yang menjelaskan keberadaan kuburan para nabi itu riwayatnya tidak bisa menjadi pegangan dan tidak ada asalnya. Lagi pula, mengetahui keberadaan kuburan para nabi bukanlah suatu hal yang dituntut dalam agama ini. Jika hal itu penting, tentu Allah Ta’ala akan menjaga pengetahuan tentangnya pada makhluk-Nya.

    Sumber: Majalah Al-Mawaddah, Edisi 9 Tahun ke-1 Robi’ul Akhir 1429/April 2008

    Artikel http://www.KisahMuslim.com

  2. brarti anda mempercayai pndapat bahwa nabi isa sudah meninggal…klo sy lebih mempercayai yg nabi isa masih hidup….. itulah perbedaan…..klo mnurut spritualis kafir mengatakn yg disalib tu bukan nabi isa..nabi isa yg asli melarikan diri kejepang dan wafat disana… hehe ke jepaaang coy…

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s