Mengkritisi Tulisan “Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah adalah syirik” Dari Kang Dicky –Guru Utama Hikmatul Iman


Tulisan “Ruqyah , Tamimah dan Tiwalah adalah syirik” dari Dicky Zainal Arifin –Guru Utama dan Pendiri Hikmatul Iman– sudah pernah dibahas secara lengkap oleh Ustadz Perdana. Berbeda dengan tulisan Ustadz Perdana yang fokus pada dalil-dalil syara’, di tulisan ini saya akan fokus membahas kesalahan logika berfikir Dicky hingga menghasilkan fatwa nyeleneh itu.

1. Minim Referensi

Kesalahan pertama adalah Dicky sangat minim referensi. Dalil yang dia gunakan hanyalah hadits shahih di bawah.

Ibnu Mas’ud menuturkan : aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Hadits ini shahih, namun yang jadi masalah adalah Dicky mengabaikan puluhan hadits lain yang jelas-jelas mengabarkan tentang Ruqyah. Padahal hadits-hadits itu sangat mudah ditemukan karena Imam Bukhari saja menulis satu bab khusus berjudul Pengobatan dalam kitab Shahihnya.

Dalam menafsirkan (satu-satunya) hadits ini pun, Dicky sama sekali tidak menggunakan referensi dari ulama atau kitab lain.

Di bagian lain, Dicky juga mengutip Surat Al-Falaq dan Surat An-Nas. Seandainya Dicky menyempatkan sedikit saja waktunya untuk membaca tafsir kedua surat ini, niscaya dia akan menemukan penjelasan para mufassir bahwa keduanya digunakan rasul untuk ruqyah perlindungan diri. Disunnahkan membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, meniup tangan, lalu mengusapkannya ke seluruh tubuh. Ini dilakukan tiga kali sebelum tidur.

Inilah akibat dari terlalu berani berfatwa tanpa ilmu.

2. Gegabah Dalam Membuat Kesimpulan

Kesalahan berikutnya adalah Dicky sangat gegabah dalam menentukan hukum. Lihatlah penjelasannya tentang Tamimah.

TAMIMAH adalah sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak untuk menangkal dan menolak penyakit ‘ain. Jika yang dikalungkan itu berasal dari ayat-ayat Al Qur’an, sebagian ulama salaf memberikan keringanan dalam hal ini; dan sebagian yang lain tidak memperbolehkan dan melarangnya, diantaranya Ibnu Mas’ud

Perhatikan bahwa ada kalimat “sebagian ulama salaf memberikan keringanan dalam hal ini.” Seharusnya, Dicky terlebih dahulu merinci yang dimaksud keringanan tersebut dan apa alasannya untuk kemudian dibantah. Tapi, dengan mudahnya Dicky langsung menyimpulkan tamimah itu syirik.

Apabila kita bercermin pada hal tersebut, maka sudah jelas bahwa Rasulullah SAW melarang kita melakukan Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah karena itu adalah perbuatan syirik.

Dicky menggunakan kalimat “sudah jelas” seolah-olah ini perkara yang telah diketahui secara luas dalam agama. Bukankah sebelumnya dia sendiri mengatakan bahwa “sebagian ulama salaf memberikan keringanan dalam hal ini (tamimah)”?

3. Perbandingan Tidak Seimbang Antara Ruqyah dan Sihir

Dalam tulisan itu, Dicky menyamakan praktek Ruqyah dengan sihir hanya karena sama-sama menggunakan bacaan.

Apabila kita melihat dari ayat ayat tersebut diatas, adalah wajar Rasulullah SAW melarang kita melakukan Ruqyah karena, apa bedanya kita dengan tukang tukang sihir yang melakukan jampi jampi, hanya jampinya dirubah dengan menggunakan ayat ayat Al Qur’an atau dengan bahasa arab.

Sepertinya informasi tentang ruqyah yang diketahui Dicky hanyalah dari acara-acara rekaan semacam “Pemburu Hantu” yang sempat populer di masa itu. Dia sama sekali tidak memahami praktek yang dilakukan para peruqyah yang lurus. Hasilnya, perbandingan yang dilakukannya pun sama sekali tidak seimbang.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memang kata jampi berkonotasi buruk.

jam·pi n kata-kata atau kalimat yg dibaca atau diucapkan, dapat mendatangkan daya gaib (untuk mengobati penyakit dsb); mantra;
jam·pi-jam·pi n jampi; mantra;
ber·jam·pi v bermantra; telah dimantrai: kata orang, air ~ itu dapat menyembuhkan segala macam penyakit;
men·jam·pi v mengenakan jampi pd; memantrai: dukun itu sedang ~ air;
men·jam·pi·kan v menjampi;
jam·pi·an n 1 jampi; mantra; 2 telah dijampi; 3 cara menjampi

Ruqyah memang kadang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai jampi. Wajar saja karena memang tidak ada padanan kata yang tepat selain itu. Jika dibandingkan dengan jampi (mantra) seorang dukun, ruqyah jauh berbeda. Salah satunya adalah wajib meyakini bahwa kesembuhan datang hanya dari Allah, bukan karena bacaannya. Selain akibat tayangan “Pemburu Hantu”, mungkin ini juga menjadi penyebab Dicky dan muridnya begitu anti dengan Ruqyah.

Dengan informasi yang minim ini, pantas jika hasil perbandingannya pun tidak benar. Seharusnya, sebelum melakukan perbandingan Dicky memahami terlebih dahulu yang dimaksud dengan ruqyah secara lengkap. Jika definisi awalnya saja sudah salah, maka kesimpulannya pun akan berbeda.

Dalam tulisan itu, definisi Ruqyah sangat dangkal. Lihat saja kutipannya di bawah.

RUQYAH yaitu : yang disebut juga dengan istilah Ajimat. Ini tidak diperbolehkan karena menjurus kearah hal hal yang syirik, karena Rasulullah SAW telah….

Mana definisinya? Dikatakan bahwa ruqyah disebut juga sebagai Ajimat. Apa itu Ajimat? Inilah akibatnya jika berfatwa tanpa memahami definisi objek yang dimaksud.

4. Logika Melompat dalam Menyimpulkan Ketidakefektifan Ruqyah

Satu lagi pemikiran khas Hikmatul Iman adalah logikanya yang melompat-lompat tidak teratur. Silakan baca paragraf berikut.

Apabila kita melihat dari sejarah, telah dibuktikan bahwa metoda Ruqyah itu sama sekali tidak efektif. Maka oleh sebab itu seorang Cendekiawan Muslim bernama Ibnu Sina, merancang kedokteran yang merupakan metoda amat sangat ilmiah, untuk mengobati orang sakit secara nyata dan dapat dipertanggungjawabkan.

Benarkah Ibnu Sina mengembangkan ilmu kedokteran karena merasa ruqyah dianggap tidak efektif? Pernyataan ini butuh rujukan sejarah yang valid. Ibnu Sina hidup di abad 4 Hijriah, 400 tahun setelah masa rasul. Apa saja yang terjadi selama kurun waktu 400 tahun itu?

Di masa Ibnu Sina, memang ilmu pengetahuan kaum muslimin mengalami kemajuan yang luar biasa. Bukan saja ilmu kedokteran yang berkembang, tapi semua keilmuan termasuk matematika dan astronomi. Lebih logis jika dikatakan bahwa perkembangan ilmu kedokteran saat itu adalah sesuatu yang alami.

5. Contoh Yang Sangat Bias

Terakhir, Dicky juga memberikan contoh yang bias terhadap ruqyah. Dicky mencontohkan bagaimana seorang peruqyah salah menangani penderita stress dan menganggapnya diganggu jin.

Contoh ini sama sekali tidak membahas tentang ruqyah. Contoh ini hanya membahas kasus salah diagnosa yang mungkin terjadi pada siapa pun. Seorang dokter bisa saja salah mendiagnosa penderita stress sebagai penyakit fisik biasa. Apa kemudian kita akan menolak konsep ilmu kedokteran seluruhnya?

Penutup

Terlihat bahwa argumen yang digunakan Dicky dalam artikelnya itu lemah. Jika Anda sering membaca tulisan-tulisan para ulama akan terasa bahwa tulisan Dicky sangat dangkal dan sangat sulit untuk dikatakan sebagai fatwa agama. Sejak awal, minimnya referensi menunjukkan bahwa tulisan Dicky tidak ilmiah dan tidaklah layak dijadikan rujukan. Jika Anda mau googling, ada banyak bahasan tentang Ruqyah yang jauh lebih ilmiah dari tulisannya.

Iklan

40 thoughts on “Mengkritisi Tulisan “Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah adalah syirik” Dari Kang Dicky –Guru Utama Hikmatul Iman”

  1. Kalau “PEMAHAMAN RUQYAHNYA” beda, sampai kapan pun nggak akan selesai…

    Yang satu memahami bahwa “RUQYAH ADALAH HANYA MEMBACA QUR’AN”, sementara yang lain memahami bahwa “RUQYAH ADALAH MEMBACA APA SAJA BAIK QUR’AN ATAU BUKAN”…

    Yang benar “RUQYAH ITU MEMBACA APA SAJA BAIK QUR’AN ATAU BUKAN”, makannya ada hadits atau riwayat yang “MELARANG RUQYAH” dan “MEMBOLEHKAN RUQYAH” meskipun “YANG MELARANG DAN MEMBOLEHKAN TIDAK SALING BERTENTANGAN”, karena “BEDA RUQYAH YANG DIMAKSUD PADA HADITS/RIWAYAT YANG MEMBOLEHKAN DENGAN YANG MELARANG”…

    Yang dilarang itu yang mengandung “SYIRIK” (membaca tanpa memahami yang dibaca, atau memahami yang dibaca tetapi bacaannya kalimat2 yang tidak benar atau bahkan bersifat musyrik), jadi kalau membaca Qur’an dengan tujuan menyembuhkan tanpa memahami artinya, ini juga mengandung “SYIRIK” jika menganggap/meyakini “QUR’AN YANG MENYEMBUHKAN DAN BUKAN ALLAH”…

    Yang dibolehkan itu yang “TIDAK MENGANDUNG SYIRIK” (membaca dengan sangat memahami apa yang dibaca, dan bacaannya kalimat2 yang benar serta tidak bersifat musyrik), jadi kalau Kita membaca dengan bahasa indonesia secara spontan misal “Ya Allah Hamba memohon kepada Mu kesembuhan atas penyakit yang sedang Hamba derita ini”, ini juga Ruqyah dan tidak mengandung unsur syirik, serta diperbolehkan…

    Ruqyah itu sama saja dengan membaca sebuah afirmasi, ini dibolehkan dengan syarat “TIDAK MENGANDUNG SYIRIK”… Jangan dianggap semua istilah yang menggunakan bahasa arab adalah istilah islami, Ruqyah itu bukan istilah islami… Seperti panggilan “ABI UMMI” yang banyak diamalkan pasangan suami-isteri di indonesia, ini bukan sunnah rosul dan bukan kebiasaan yang islami… Rosul memanggil pasangan itu menyunahkan dengan panggilan Sayang, seperti aisya yang dipanggil khumairo… Salam…

  2. semoga ana tidak termasuk orang2 yang merugi…Aamiin…ana lebih memilih jadi org biasa dari pada mempelajari ilmu2 yg berlebihan yg akhirnya tdk terasa tersesat kejalan yg salah, berdebat seolah2 merasa paling benar, membela bukan yg patut dbela demi mempertahankan jati diri yg sebenarnya hanyalah sebuah kebetulan semata tetapi tanpa terasa kita telah BERKHIANAT…ane nyimak terus gan….

    1. HIW tetap pada tujuan awalnya, yaitu mengungkap paham menyimpang yang ada di Hikmatul Iman. Fakta akan terus kami ungkapkan dan bantahan akan terus kami utarakan.

  3. Sip..!? Wah rukun lagi, alhamdulillah…. Saya orang bodoh yg tetep beriman kpd Allah SWT. Deg-degan nyimaknya…. Smoga Allah mengampuni kita smua, amin.!

  4. Untuk saudara Widjojo : sebelumnya ada kekeliruan atas tanggapan yang dibuat oleh saudara ankawijaya ( yang memakai nama berbahasa korea ),,sepertinya ada seseorang entah itu teman kost-an atau orang iseng sewaktu ada di warnet dan karna ada unsur ketidaksengajaan tman saya itu tidak meng log-out profilnya sehingga terdapat sebuah tuliasan balasan seperti yang ada di atas,,Demi Allah Rasulullah tulisan itu bukan buatan beliau,,jadi dengan mohon maaf sekali lagi.

    1. Terima kasih. Semoga nanti bisa lebih berhati-hati lagi.

      Catatan: Email antum ana ganti karena gambar profilnya buruk. Link ke facebook antum yang berisi foto vulgar dua orang homoseks berhubungan seks juga ana buang.

  5. Ass.. Mas wid walau bagaimana pun Anda dan ust.PA kurang bijak jika terus menanggap Ana Dan HI sembarangan menafsirkan al-quran. Ana bukan ulil yg secara liberal mengkritisi sembari menyangkal apa yg sudah digariskan. Bagi Ana hukum potong tangan misalnya, sampai kapanpun tetap berlaku, nah untuk permasalahan penafsiran ‘ala’ kami mengenai fenomena masa lalu, Ana rasa tidak bisa langsung Anda judge sesat,menyimpang atau bahkan kafir. Keberadaan pemikiran kami justru memperkaya khazanah rahasia keilmuwan yg ada dalam al-quran,itulah menurut Ana yg membedakan kita dgan orang nasrani yg hanya bisa menelan bulat Dan meyakini tuhan itu ada 3 Dan yesus itu tuhan hanya karena pendeta mereka mengatakannya,selain itu Ana yakin bila Anda juga tidak terlalu bodoh untuk apatis bila jaman dahulu mukzizat atau karomah nabi sulaiman bisa terbang laksana superman saat kaumnya menaiki unta saja (kan Anda tidak meyakini kecanggihan jaman Dulu, jadi cukup ‘yes’ saja melihat berbagai fenomena masa lalu)

    1. Waalaikum salam,

      Insya Allah ana tidak akan menganggap muslim mana pun sesat, apalagi kafir. Kriteria pengkafiran sangat ketat, seandainya salah maka akibatnya tuduhan kafir itu berbalik pada kita sendiri. Perlu bukti yang nyata, berupa sikap, ucapan, atau perubahan keyakinan sebelum menghukumi seseorang kafir/murtad.

      Semoga kita, walaupun berbeda pendapat, tidak sampai terjerumus ke sana, saling mengkafir-kafirkan.

      Kisah-kisah para Nabi (Adam as (ADHAMA), Rasul SAW (HAMMADZ), Nuh as, Yunus as, Musa as) yang disebarkan Kang Dicky termasuk perkara aqidah yang harus disadarkan pada dalil-dalil shohih.

      Pertama, berbicara tentang para nabi, berarti bicara tentang akidah Islam.

      Islam memandang bahwa aqidah tak boleh dinukil dari sekadar perkataan orang, wajib digali berdasarkan sumber yang qath’i, yakni Al-Qur’an dan hadits mutawatir.

      Sumber: Menyingkap Jin & Dukun “Hitam Putih” Indonesia Hal. 36, Irfan Ramadhan al-Raqiy, Penerbit Halim Jaya

      Khabar tentang akidah yang diambil secara sembarangan tanpa dalil bisa berakibat rusaknya akidah.

      Ana tidak berani menghukumi individunya (murid HI atau Kang Dicky) kafir! Tapi, pemahaman HI yang kami kupas di sini jelas menyimpang dari akidah yang benar.

      Insya Allah, seandainya kita bertemu ana mau jadi makmum dan antum jadi imam. Karena antum sama-sama muslim dan sah sholatnya di belakang muslim. Mohon perbedaan ini tidak ditanggapi berlebihan seolah-olah kami menganggap yang kami kritik adalah sesat apalagi kafir.

      1. ana sebetulnya baru belajar pra dasar di HI…tp selama an baca disini HI Watch tidak berlebihan dan sangat masuk akal dari segi tata bahasa, rujukan2, sungguh mencerminkan ingin membeberkan keadaan yg sebenarnya…lanjut perjuangan nya…

  6. Jadi anda yg merasa bertentangan dgn Kang Dicky merasa bahwa didunia ini manusia tuh gak bisa apa2,,bisanya cuma mencari uang,,kawin,,beranak,,trus mati ?? lalu banyak kejadian janggal yg sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah tetapi dianggap mistik dan mustahil untuk dijangkau ??

  7. ya sudah begini saja dealnya,,sekarang saya lapar saya butuh bantuan ALLAH sekarang,,bisakah anda menjanjikan bahwa ALLAH akan memberi saya makanan ?? apakah DIA akan turun untuk membantu hambanya yang sangat mengimaninya ??

  8. Ulama2 tai,,emang mereka pernah ketemu Tuhan,,ilmu mereka ya sama aja ma kita2 sumbernya,,mereka ngarang cerita kaya yg pernah ketemu muhammad aja dulu,,hidup jangan berpedomankan masa lalu,,tp apa yg kita liha dan rasakan saat ini,,detik ini

    Catatan dari komentator lain:

    Untuk saudara Widjojo : sebelumnya ada kekeliruan atas tanggapan yang dibuat oleh saudara ankawijaya ( yang memakai nama berbahasa korea ),,sepertinya ada seseorang entah itu teman kost-an atau orang iseng sewaktu ada di warnet dan karna ada unsur ketidaksengajaan tman saya itu tidak meng log-out profilnya sehingga terdapat sebuah tuliasan balasan seperti yang ada di atas,,Demi Allah Rasulullah tulisan itu bukan buatan beliau,,jadi dengan mohon maaf sekali lagi.

    1. Akhirnya muncul juga karakter dirimu yang sebenarnya.

      Mohon tidak berkomentar lagi. Ente sudah ana masukkan ke daftar blacklist.

      mereka ngarang cerita kaya yg pernah ketemu muhammad aja dulu

      Tapi Kang Dicky yang ngarang cerita seolah pernah ketemu Nabi Adam, Nabi Yunus, Nabi Muhammad, Khidir, Siti Hawa, Habil, dst tdk diprotes ya? Inilah contoh logika yang kacau dan bertentangan. 🙂

      1. benar ternyata, anda hanya ingin menang diskusi saja. seperti yang saya katakan, apa yang terlihat (letterluks) belum tentu seperti apa kejadian sebenarnya. apakah tulisan yang mengatasnamakan saya diatas adalah tulisan saya atau tulisan orang lain yang menggunakan nama saya karena keteledoran saya yang tidak menglog out FB dan blog ini. nah, hal tersebutpun bisa terjadi pada masa lalu dimana ada perbedaan persepsi terhadap suatu hal, bisa karena perbedaan pengetahuan, metode ataupun data yang dimiliki.
        tapi syukurlah kalau memang tidak ada niatan untuk mengkafirkan orang lain.

  9. betul, tapi juga jangan samakan ulama masa lalu derajatnya dengan Rasulullah (naudzubillah, ya Allah, maaafkan kami yang penuh salah ini).

    makanya, kita semua jangan sok berlagak jadi nabi dengan mengklaim diri sebagai satu2nya sumber kebenaran dan mengkafirkan pendapat orang lain. teliti segala sesuatu dengan hati yang baik bukan dengan hati yang penuh dengan kedengkian.

    mulai sekarang mari sama-sama berdiskusi dengan penuh nilai kebersamaan, keberkahan dan ukhuwah islamiyah.

    1. Tidak ada yang menyamakan ulama dengan Rasul atau Nabi. Tapi, lewat ulamalah kita memahami perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya.

      Allah dan Rasul-Nya memang satu-satunya sumber kebenaran yang mutlak, tidak mungkin salah. Sepintar apapun sains atau secanggih apapun teknologi jika menyalahi dalil maka pasti salah.

      1. betul, dan kita mesti mengembangkan dan mengecek pendapat pendapat ulama tersebut agar semakin terang segala sesuatunya. nah, kalau dalilnya ternyata masih banyak masalah seperti yang saya paparkan di atas ( bisa diartikan masih memiliki sesuatu yang syubhat), justru pencarian-pencarian kebenaran ilmiah bisa dijadikan sebagai salah satu pembuktikan kebenaran suatu dalil. bukankah kalian semua menggunakan temuan dan teori sains dan teknologi untuk saling mempertahankan pendapat?

  10. @Anka : syukurlah kalo memang pernyataan anda ( ttg tak pernah sholat itu ) hanya ‘pancingan’ saja.
    Untuk permasalahan kredibilitas hadits,ana tidak bisa berkomentar lebih banyak karena keterbatasan ana ,mungkin mas wid bisa lebih berkomentar dari sisi keilmuan. Ana hanya bisa memandang dari sisi lain ; hadits shahih apapun apalagi yang mungkin saling bertentangan baik dari bukhari,muslim,ibn majah,atau bahkan mutafakun alaih,tetaplah hanya ‘praduga’. Kita hanya bisa mereka-reka (tentunya berdasarkan ilmu hadits tentunya ) seperti apakah shalatnya rasul,gerakannya,posisi tubuh,bacaannya dsb namun diantara mungkin sekian ribu hadits yang berbicara tentang shalat,pastilah ada salah satunya yang benar ( bukan hanya mendekati kebenaran ). Untuk itu tugas kita bersama untuk terus mencari kebenaran itu sembari tetap meyakini dan menjalankan syariat yang telah ada.

    1. Ana rasa sudah terlalu berlebihan dan tidak perlu dikomentari. Seolah-olah ada perpecahan besar dalam keilmuan sehingga tidak ada satu pun perkara di agama Islam yang secara mutlak benar.

      Hadits yang dikatakan shahih berarti diduga kuat berasal dari Rasul saw. Memang mungkin salah karena semua perawi adalah manusia yang tidak mungkin lepas dari kesalahan.

      Tapi, jangan samakan kredibilitas perawi yang tsiqoh dan dhobit dengan diri kita ini. Kriteria yang digunakan para ahli hadits sangat ketat. Perawi yang ketahuan pernah berbohong sekali pada anaknya sendiri bisa jatuh statusnya. Perawi yang sholatnya tidak menutup kepala, walaupun sholatnya sah, bisa jatuh statusnya karena melakukan perkara yang tergolong makruh.

      Jika memang ingin paham lebih dalam, silakan pelajari ilmunya langsung. Jangan mengalihkan perhatian blog ini yang fokus pada mengkritisi pemikiran dan paham Hikmatul Iman.

      Masa menyuruh blogger untuk mengumpulkan ulama seluruh dunia dan membuat kesepakatan tentang agama Islam. Ngimpi itu namanya. 🙂 Ana tidak tertarik menanggapi komentar yang hanya ingin menyebarkan syubhat.

      Kalau memang ada hadits shahih yang bertentangan dengan al-Qur’an bahkan dianggap para ulama sebagai perkara besar yang seolah-olah bisa meruntuhkan fondasi agama Islam. Silakan tunjukkan dalil mana, riwayat siapa, nomor berapa konflik dengan ayat mana?

  11. Ana punya dua pernyataan.

    a. Kemarin A di Bandung.
    b. Kemarin A di Papua.

    benar, bisa bisa jadi keduanya benar, yaitu si A pada hari yang sama berada di dua tempat. tetapi pernyataan di atas bisa juga salah satunya benar dan yang lainnya tidak benar. makanya ada metode2 khusus dibuat oleh ulama masa lalu.

    namun, metode yang dibuat oleh ulama masa lalu seperti ushul fiqih dan sebagainya bukan lah metode untuk mencari hadits yang benar-benar ‘benar’ dan asli, melainkan untuk mencari hadits yang kemungkinan nilai kebenaranya paling besar berdasarkan tingkat keshahihan. setelah ditentukan dengan metode yang ketat pun ternyata masih ada permasalahan-permasalahan yang muncul. di antaranya: terjadi perbedaan metode antar ulama, terjadi perbedaan dalam memahami hadits hadits shahih dan paradoksi ( pertentangan antar hadits) dan mungkin ada yang lainnya. bahkan ada ulama yang menyarankan untuk meninggalkan hadits shahih yang bertentangan dan menyandarkan diri pada hadits lain dengan tingkat keshahihan hadist yang lebih rendah.

    kedua belah pihak yang bertikai di sini kan ingin kajian ilmiah yang ketat dengan menggunakan al quran dan hadits sebagai parameternya, maka harus jelas dulu posisi parameternya. kecuali hanya ingin debat kusir yang sekedar menyampaikan pemahaman menurut keyakinan masing-masing.

    coba deh pelajari perdebatan2 yang terjadi antara sesama islam (terutama yang berbeda aliran) mengenai sebuah isu/ permasalahan dengan menggunakan al quran dan hadits sebagai parameter. dapat dilihat bahwa sebagian besar akan bermuara pada perdebatan mengenai keabsahan dan pemaknaan parameternya, bukan lagi berdebat mengenai isunya. begitu juga yang terjadi di forum ini.

    kemudian coba pelajari kajian2 untuk membantah kebenaran agama kristen yang dilakukan beberapa ulama terhadap kitab injil mereka. para ulama pun mempertanyakan aspek historis kitab mereka dan paradoksi yang terjadi di dalam kitab injil. banyak ulama yang menolak pemahaman subjektif dari agama kristen terhadap persoalan yang diangkat karena para ulama menganggap kejelasan semua tulisan yang ada di injil sudah tidak perlu lagi di maknai. nah, bagaimana dengan hadits?

    adakah paradoks antara al quran dan hadits? coba pelajari persoalan takdir (qada dan qadar).

  12. Untuk Mas Anka Wijaya,sebetulnya menurut ana sangat disayangkan,jika hanya karena banyaknya perbedaan antara Hadits shahih ataupun ayat Al-Quran,anda jadi jarang sholat (maaf),tidaklah menjadi justifikasi yang rasional menurut ana.
    Sekedar Info saja :
    Dari Bbdullah Bin Umr mengatakan ia berkata bahwa, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kaum Bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan. dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan semuanya akan masuk nraka, kecuali 1 golongan, lalu sahabat bertanya. siapakah itu wahai Rasulullah? Nabi SAW menjawab ( orang orang adalah orang yang berpegangan pada)semua perbuatan yang telah aku lakukan serta perbuatan yang telah aku lakukan terhadap sahabat-sahabatku (sunan al_Tirmidzi[2565])

    Sumber: http://id.shvoong.com/books/dictionary/2007144-hadits-tentang-perpecahan-umat-islam/#ixzz1yx5LhW8f

    Jika boleh ana menyarankan yakinilah apa yang anda kerjakan,seperti ana meyakini praktek shalat ana,keyakinan ana akan peradaban tinggi masa lalu,takdir,fiqih dsb namun sembari ana terus mencari dan belajar sejauh belum ada yang lebih logis dan shahih menurut ana, dan bila di kemudian hari ada keterangan yang lebih shohih atau lebih logis maka, Wallahi,ana tentu akan berubah.

    1. Sebetulnya dalam fakta, tidak pernah ada pertentangan antara hadits shohih dan al-Qur’an. Ini dibahas Imam Syafii dalam Ar-Risalah. Hadits shohih dan al-Qur’an dua-duanya benar sehingga tidak mungkin yang benar menyalahkan yang benar. Hanya saja, kadang kita yang tidak paham ilmu agama yang salah memahaminya.

      Misalnya begini. Ana punya dua pernyataan.

      1. Kemarin A di Bandung.
      2. Kemarin A di Papua.

      Sepintas ini bertentangan, tapi sebetulnya dua-duanya bisa jadi benar. A berada di Bandung siang hari dan di Papua pada sore hari.

      Begitu juga yang terjadi dengan Ruqyah. Di satu hadits Rasul menyatakan syiriknya ruqyah, di sisi lain memerintahkan ruqyah. Dua-duanya benar, ruqyah terbagi dua yaitu ruqyah syar’iyyah (sesuai syariat) dan ruqyah syirkiyyah (menyimpang dari syariat). Ruqyah syariyyah diperbolehkan sementara ruqyah syirkiyyah dilarang.

      1. Kalau ada yang berani menyatakan bahwa ada hadits shohih yang bertentangan dengan ayat Qur’an atau dengan hadits shohih lain, kemungkinan besar dia tidak pernah membaca penjelasan atau tafsir para ulama tentangnya.

        Sekali lagi. Dalam kenyataannya tidak pernah ada hadits shohih yang bertentangan dengan ayat al-Qur’an.

  13. Sekedar pendapat,dalam hal ini ana walau ‘kedekatan’ secara psikologis dengan beliau (KD-Red)karena ana notabene adalah ‘mantan’ murid HI,Ana juga ‘ikut’ mengkritisi apa yang jadi ‘keyakinan’ beliau menyangkut Ruqyah, karena buat ana ruqyah adalah salah satu bukti dari universalitas dari Al-Quran sebagai kitab yang terpelihara,sekedar berita gak penting,Ibu mertua ana juga diruqyah,bahkan ana sendiri sewaktu pernah mengalamai’stagnasi kehidupan’, ana diruqyah. ☺

    1. Hadits-hadits shohih tentang Ruqyah sudah terlalu banyak untuk dibantah. Ana juga heran Kang Dicky sampai berani menolak Ruqyah.

      Padahal dalil yang digunakan KD untuk mensyirikkan ruqyah memerintahkan ruqyah juga. KD hanya memotong isinya agar sesuai dengan tafsirannya. Di bawah adalah redaksi lengkap hadits shohih yang menyatakan bahwa ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.

      سنن أبي داوود ٣٣٨٥: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ الْجَزَّارِ عَنْ ابْنِ أَخِي زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
      سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ قَالَتْ قُلْتُ لِمَ تَقُولُ هَذَا وَاللَّهِ لَقَدْ كَانَتْ عَيْنِي تَقْذِفُ وَكُنْتُ أَخْتَلِفُ إِلَى فُلَانٍ الْيَهُودِيِّ يَرْقِينِي فَإِذَا رَقَانِي سَكَنَتْ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ إِنَّمَا ذَاكَ عَمَلُ الشَّيْطَانِ كَانَ يَنْخُسُهَا بِيَدِهِ فَإِذَا رَقَاهَا كَفَّ عَنْهَا إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكِ أَنْ تَقُولِي كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَذْهِبْ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

      Sunan Abu Daud 3385: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Ala telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari ‘Amru bin Murrah dari Yahya bin Al Jazzar dari anak saudara Zainab isteri Abdullah, dari Zainab dari Abdullah ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat dan tiwalah (menjadikan seorang wanita mencintai suaminya) adalah bentuk kesyirikan.” Zainab berkata, “Aku katakan, ‘Kenapa engkau mengucapkan hal ini? Demi Allah! Sungguh, mataku telah mengeluarkan air mata dan kotoran. Dan aku bolak-balik datang kepada Fulan seorang Yahudi yang menjampiku, apabila ia menjampiku maka mataku menjadi tenang?” Kemudian Abdullah menjawab, ‘Sesungguhnya hal tersebut adalah perbuatan setan. Setan telah menusuk matanya menggunakan tangannya, kemudian apabila orang yahudi tersebut menjampinya maka setan menahan tusukannya. Sebenarnya cukup bagimu mengucapkan sebagaimana yang diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘ADZHIBIL BA`SA RABBAN NAASA ISYFI ANTA ASY SYAAFII LAA SYIFAA A ILLAA SYIFAA`UKA SYIFAA`AN LAA YUGHAADIRU SAQAMAN (Wahai Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit, sesungguhnya Engkau Pemberi kesembuhan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan efek penyakit) ‘.”

      Jika dibaca secara lengkap. hadits itu juga memerintahkan ruqyah yaitu dengan membaca ADZHIBIL BA`SA RABBAN NAASA ISYFI ANTA ASY SYAAFII LAA SYIFAA A ILLAA SYIFAA`UKA SYIFAA`AN LAA YUGHAADIRU SAQAMAN.

    1. Jika Anda sama sekali awam/tidak mengerti masalah agama, mohon tidak banyak berkomentar. Silakan pelajari tafsir dan penjelasan ayat al-Qur’an atau hadits yang dimaksud sebelum berkomentar.

      1. kalau memang anda mengerti coba jelaskan mengapa terjadi pertentangan antar hadits. saya yakin bukan hanya hadits yang di atas saja yang saling bertentangan, tetapi banyak hadits hadits lain yang juga bertentangan bahkan mungkin dengan al quran ( yang lain mungkin bisa menunjukan). nah,kalau kebenaran dilandaskan pada kuantitas, karena jumlah haditsnya lebih banyak, maka agama pagan benar dong karena tuhannya lebih banyak sedangkan islam hanya satu.

        begini bung. jika anda ingin membahas sesuatu secara ilmiah, maka bahas secara ilmiah jangan setengah setengah( yang menguntungkan di ilmiahkan dan yang merugikan disembunyikan).

        nah, pada kasus hikmatul iman dan yang lainnya pun, anda kan ingin mengkajinya secara ilmiah bahkan ilmiah yang ketat. apabila memang seperti itu, seperti yang saya katakan, lakukan pembuktian ilmiah dengan cara melakukan observasi yang empirik yang dilakukan bersama-sama plus pihak ketiga yang netral sehingga ditemukan fakta bersama bukan sekedar debat keras yang saling mempertahankan keyakinan pemahaman. bila segala sesuatunya berdasarkan keyakinan saja, tidak akan pernah selesai debatnya sampai kapan pun karena kedua belah pihak akan berusaha mempertahankan keyakinan masing-masing. debat kusir namanya dan itu mubazir. anda menjadi orang yang sia-sia karena mengerjakan pekerjaan yang mubazir.
        -oh, kami ilmiah ko karena kami mendasarkan debat kami pada parameter yang jelas yakni al guran dan al hadits.

        kalau memang benar ingin menyandarkan diri pada al quran dan hadits dan pembahasannya secara ilmiah, maka yang perlu anda lakukan bukan menyerang pendapat atau keyakinan pihak lain dulu. lebih baik anda mengkokohkan parameternya dahulu yakni al quran dan hadits, apabila parameternya belum kokoh dan masih memiliki permasalahan yang masih diperdebatkan, maka kajian anda terhadap sebuah paham lain (mis. hikmatul iman) tidak reliable. coba tanyakan kepada ahli penelitian (kalau saya cuma lulusan sma), apakah hasil penelitian dianggap benar apabila parameternya masih dalam perdebatan.( ingat ini kajian ilmiah bukan keyakinan!).

        apakah parameternya bermasalah atau tidak? perlu di cek kembali. bagai mana cara menceknya?

        saya kira cara salah satu mengeceknya adalah berdasarkan hal tadi di atas yakni apakah antar parameter ada pertentangan atau tidak? kalau ada, belum layak untuk dijadikan parameter. kemudian apakah masih dalam perdebatan ? apabila masih dalam perdebatan maka tidak layak untuk dijadikan parameter. bagaimana tingkat keabsahan parameternya bila dilihat berdasarkan aspek historisnya, ada tidak persoalan dalam pengumpulannya, apakah semua hadits dan mungkin al quran sudah terkumpul semua, apakah ada kemungkinan parameter tersebut mengalami distorsi dan peng editan ( bisa dalam bentuk apapun, mis. pemusnahan). bila terjadi maka parameternya tidak reliable.

        betul bahwa ulama masa lalu telah berusaha memperketat pembuktian keabsahan al quran dan al hadits seperti mengecek aspek historis (asbabul nizul dan wurud), takhrij dan sebagainya, tetapi pada kenyataannya pendapat para ulama di masa lalu pun mengalami perbedaan pandangan, dan hasilnya adalah islam yang heterogen seperti sekarang. siapa diantera pala ulama yang di pilih oleh Allah sebagai wakil beliau dalam mengartikan sabdanya melalui muhammad? syafe’i, hanafi, hambali, al banna, ibn Qayim atau yang lainnya. kalau mereka semua dianggap sebagai wakil tuhan, maka tidak boleh ada yang saling mengklain kebenaran karena mereka pun saling berbeda pendapat. nah, justru pendapat mereka lah yang menjadikan islam beragam aliran.

        sebelum menjustifikasi kelompok lain sebagai kelompok yang sesat, lebih baik perkokoh lagi parameternya, bahas sampai tuntas. kalau perlu kumpulkan semua tokoh islam dari semua aliran untuk membuat sebuah pandangan yang tunggal. apabila terjadi sebuah pendapat yang tunggal dalam memahami al quran dan al hadits, baru bisa di pakai sebagai parameter.

        masalahnya, saya yakin bahwa walau pun disatukan, setiap kelompok akan saling mempertahakan pendapat masing masing dengan pemahaman dan kekeras-kepalaan yang dimiliki masing-masing. lalu siapa yang berhak memaknai al quran dan hadits secara tunggal? al masih? al mahdi?

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s