Logika Latihan Kang Akmal


Sumber: Logika Latihan Kang Akmal ~ Hikmatul Iman Karawang


Pada kesempatan kali ini, saya akan mempostingkan tentang Logika Latihan yang di sampaikan Kang Akmal di forum HI, walaupun mungkin dengan saya sendiri belum kenal tapi dikarenakan isi dari pendapatnya bagus buat kita semua, terutama yang menekuni teknik latihan di LSBD HIKMATUL IMAN INDONESIA. ***SELAMAT MENIKMATI***

Alkisah dahulu, ketika saya (Kang Akmal) baru saja masuk HI, beredarlah kabar bahwa HI adalah sebuah perguruan yang memiliki banyak versi jurus. Kabar ini disikapi berbeda oleh orang2. Ada yg menyangkal bahwa jurus2 itu berbeda2 versinya, dan mengatakan bahwa yg terjadi adalah kesalahan pemahaman murid2nya. Tapi ada yg malah mengatakan bahwa itulah kehebatan HI, karena masing2 murid bisa menginterpretasikan keilmuannya sendiri2. Sebagai Pradasar, saya hanya bisa jadi pengamat saja tanpa bisa menentukan sikap.

Dari Pradasar, ke Dasar 1, lalu ke Dasar 2, lalu ke Dasar 3, lalu ke Dasar 4. Pada tingkatan Dasar 4 inilah baru saya cukup banyak berinteraksi dengan Kang Dicky. Tentu saja, setiap kali ketemu beliau — baik dlm situasi diskusi biasa atau dlm latihan — pasti selalu saya manfaatkan untuk mengkonfirmasi pemahaman keilmuan HI saya. Dari diskusi dan mendengarkan penjelasan beliau, saya temukan banyak sekali “ooh…”

“Ooooh ternyata sungsang tidak dilarang secara mutlak!”

“Ooooh ternyata teknik2 tarung di HI seperti itu!”

“Ooooh ternyata hawa panas itu beneran panas, bukan hangat!”

Episode “Ooooh” yang paling heboh dalam ingatan saya adalah ketika dalam latgab di ITB waktu Kang Dicky menjelaskan tentang penyaluran pada Jurus Angin 1. Menurut beliau, pada saat tahan napas, semua pikiran dan perasaan difokuskan untuk merasakan hawa panas di dada. Pada saat buang napas, semua pikiran dan perasaan difokuskan untuk merasakan hawa panas di telapak tangan yang mendorong. TITIK. Jadi tidak ada instruksi untuk merasakan ‘perjalanan’ hawa panas dari dada ke telapak tangan dan sebaliknya. Beberapa waktu setelah itu, saya diskusi dengan Kang Gunadi dan mendapat penjelasan bahwa instruksinya memang sesederhana itu. Kalau kita fokus pada ‘perjalanan’ hawa, maka konsentrasi akan rusak, akhirnya target tidak tercapai.

Saya ingat betul dalam latgab itu banyak wajah yang kaget, banyak mulut menganga karena baru menyadari bahwa latihannya selama ini salah (minimal kurang efektif). Sudah bertahun-tahun dilatih, ternyata salah.

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami di sini.

Pertama, Kang Dicky kadang memberikan jawaban yang sama untuk dua pertanyaan yang berbeda. Misalnya untuk sungsang, adakalanya beliau melarang muridnya untuk melarang latihan tsb, tapi adakalanya juga tidak. Hal ini terjadi karena perbedaan konteks. Mungkin murid yg satu dianggapnya belum mampu utk latihan sungsang dan khawatir ada kesalahpahaman, sedangkan murid yg satunya lagi dianggap sudah memahami latihan sungsang yg benar.

Kedua, seringkali kita memberikan interpretasi sendiri atas instruksi Kang Dicky, sehingga instruksi sederhana seperti pada Jurus Angin 1 kita tambahkan dengan asumsi kita sendiri. Sebenarnya hal ini tidaklah ‘salah’ (dgn tanda kutip), karena ini adalah bukti bahwa akal kita bekerja secara kritis. Secara naluriah kita ‘mengisi kekosongan’: karena hawa panas dirasakan di dada, kemudian di telapak tangan, maka pasti ada perjalanan di antaranya. Akan tetapi asumsi ini haruslah terus dikritisi, dan dijadikan kesimpulan sementara, sebelum akhirnya dikonfirmasi kepada para senior. Kalau sebuah asumsi dianggap sebagai kesimpulan akhir, maka bisa jadi kita akan mengalami kecelakaan fatal, terutama kalau kesalahan itu terjadi dalam konteks latihan TD.

Terkait hal ini, saya berharap kita bisa mengumpulkan referensi2 yg benar dan bisa dipertanggung jawabkan. Dalam beladiri pasti ada hirarki keilmuan. Urutannya: GU-Wasdal-PU-Pelatih-Aspel-senior. Hirarki ini membawa bbrp konsekuensi di bawah ini.

Jika instruksi dari yg hirarkinya ada di atas bertentangan dgn yg di bawahnya, maka kita harus ikuti yang di atas. Misalnya kalau kata2 GU bertentangan dengan penjelasan Aspel, ya sudah pasti kita harus ikuti GU.

Akan tetapi, kita jg perlu ingat masalah kontekstualisasi di atas, yaitu bahwa GU kadang memberi dua penjelasan yg berbeda, bahkan berlawanan, misalnya antara “Tidak boleh sungsang” dan “Silakan latihan sungsang”. Pemecahannya, untuk sementara penjelasan Aspel yg bertentangan dgn GU tadi kita kesampingkan dulu, untuk kemudian dikonfirmasi ke GU kalau-kalau ada konteks yang tidak kita pahami. Cara ini lebih safe daripada harus mengira-ngira jawaban mana yang benar.

Kasus lain sudah dibicarakan oleh Kang Kian Santang di thread lain. Menurut beliau, kalau opsi yg dibolehkan adalah A&B, maka kita tidak boleh membatasi hanya pada A saja. Demikian jg kalau Kang Dicky bilang hanya A titik, maka kita tidak boleh membatasi pada A, dengan meninggalkan “hanya” dan “titik”-nya.

Akan tetapi, kadang masalahnya mengambil bentuk yang lain. Misalnya opsi yg dibenarkan adalah A & B, sedangkan yg kita tahu dari Kang Dicky hanya A (karena, sekali lagi, Kang Dicky sering bicara berdasarkan konteks). Maka membatasi diri pada opsi A, dgn alasan opsi itulah yg sudah kita konfirmasikan, sedangkan opsi B belum kita ketahui konfirmasinya, masih lebih baik daripada mengira-ngira adanya opsi lain di luar A. Sebab, dengan mengira-ngira, belum tentu kita sampai pada opsi B, melainkan bisa nyasar ke opsi C, D, E dst. Kalaupun proses mengira-ngira itu sampai jg pada opsi B, maka itu terjadi secara kebetulan, bukan karena metode yang benar.

Dalam contoh Jurus Angin tadi, sebenarnya opsi yg dibenarkan hanya satu. Hanya saja karena mengira-ngira, muncullah opsi lainnya, yaitu merasakan ‘perjalanan’ hawa tadi. Karena mengambil opsi yg belum dikonfirmasi, akhirnya terjadilah kesalahan berjama’ah yg berlangsung selama bertahun-tahun. Inilah pentingnya kita berpegang teguh pada metode yg benar. Tentu saja, ini bukan berarti kita harus menghentikan kerja akal kita, karena itu adalah hal yg kontraproduktif (lagipula tidak mungkin). Hanya saja, setiap pendapat pribadi sebaiknya dikonfirmasi dulu ke senior agar tidak terjadi kesalahpahaman dlm keilmuan HI.

Konsekuensinya, dalam diskusi di forum ini, kita pun harus selalu mencantumkan referensi yg jelas, yg bisa dilihat dari bentuk kalimatnya. Misalnya kalimat yg diawali dgn “Menurut saya…”, nah ini jelas kesimpulan sendiri. Kesimpulan sendiri baiknya kita diskusikan bersama. Kalau memang pendapat yg kita ajukan adalah keterangan GU, maka harus diklarifikasi juga bahwa itu adalah pendapat GU. Supaya clear. Saya berharap forum ini bisa jadi forum diskusi ilmiah dimana kita membicarakan referensi-referensi yang kita punya, kita cermati perbedaan2nya (kalo ada), dan kita carikan penjelasan terangnya, jika memang perbedaan tsb muncul karena masalah konteks.

Jika Akang/Teteh ingin lebih jelas kupasannya kunjungi thread ini http://forum.hikmatul-iman.com/viewtopic.php?f=4&t=163

Iklan

4 thoughts on “Logika Latihan Kang Akmal”

  1. Buat yang mengerti ILMU dari SYEKH DICKY coba jelaskan disini dunks … Masa apa apa langsung tanya guru besar .. lha muridnya ? #prei OPLOSAN

  2. kalau ingin penjelasan yg lebih detail datang saja ke kang dicky… dari pada penasaran. jangan menyalahkan sesuatu kalau alasannya hanya lantaran kemampuan dan pemahaman kita tidak sampai kesana…. (jangan suka curiga lah ya…)

    1. Tidak ada seorang pun yanng bisa menjelaskan kecuali Dicky. Hebat ya. Tapi, kalau setuju sama Dicky, tidak ada yang nyuruh tabayun. Tafsiran sendiri selama tidak menentang Dicky tidak pernah dipermasalahkan ya?

  3. Woww .. Terus bagaimana dengan NGIMPLENG kalau begitu ceritanya ??? SYEKH DICKY waktu dulu belajar bagaimana ? apa benar syekh dicky tidak berguru pada orang lain ? #oh ILMIAH

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s