Transkrip Dialog Perdana Akhmad (Praktisi Ruqyah) dan Dicky Zainal Arifin (Guru Utama Hikmatul Iman) –Bagian 1


Perdana Akhmad dan Dicky Zainal Arifin

Artikel ini berisi transkrip dialog diskusi antara Ustadz Perdana Akhmad –seorang praktisi ruqyah syar’iyyah– dan Dicky Zainal Arifin –Praktisi Tenaga Dalam dan Guru Utama Hikmatul Iman. Transkrip ini diambil dari Artikel Diskusi Perdana Akhmad VS Kang Dicky di Blog Metafisis.

Materi Dialog

Dalam bagian pertama ini, dialog membahas kebenaran percakapan Kang Dicky dengan peruqyah, definisi Tenaga Dalam, dan status Novel ARKHYTIREMA sebagai fakta ataukah fiksi.

Tampilan transkrip ini telah dirapikan tanpa mengubah isi transkrip itu sendiri. Komentar subjektif dari Ustadz Perdana telah saya hilangkan agar dialog ini terkesan lebih objektif dan menghindari makian dari para pendukung Kang Dicky dan Hikmatul Iman yang merasa disudutkan. Walaupun begitu, komentar tetap diperlukan untuk mempermudah memahami alur dialog ini. Semua komentar ditulis dalam area kutipan untuk memisahkannya dari transkrip.

Diskusi atau Debat?

Secara bahasa, dialog ini lebih tepat jika dikatakan sebagai debat daripada diskusi. Ini dilihat dari kenyataan bahwa kedua pihak sudah memiliki pemahaman tertentu dan keduanya berusaha mempertahankan pendapatnya. Tidak ada yang salah dengan berdebat selama bukan debat kusir, yaitu debat yang disertai dengan alasan yang masuk akal.

Di bawah adalah arti kata diskusi dan debat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

de·bat /débat/ n pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dng saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing: debat tt calon presiden mendapat perhatian dr masyarakat;

kusir debat yg tidak disertai alasan yg masuk akal;

ber·de·bat v bertukar pikiran tt suatu hal dng saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat;

men·de·bat v membantah pendapat orang lain dng mengajukan alasan;

per·de·bat·an n 1 soal yg diperdebatkan; 2 perbantahan;

mem·per·de·bat·kan v menjadikan bahan untuk berdebat (berbantah); memperbantahkan;

pen·de·bat n orang yg mendebat

dis·ku·si n pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah: — tt peranan pemuda dl pembangunan;

panel diskusi yg dilakukan oleh sekelompok orang (yg disebut panel) yg membahas suatu topik yg menjadi perhatian umum di hadapan khalayak, pendengar (siaran radio), atau penonton (siaran televisi), khalayak diberi kesempatan untuk bertanya atau memberikan pendapat;

ber·dis·ku·si v mengadakan diskusi; bertukar pikiran: mereka ~ mengenai ketahanan nasional;

men·dis·ku·si·kan v membicarakan sesuatu dl diskusi: para peserta seminar sedang ~ masalah pembinaan generasi muda

Jika mengandung maslahat dan disertai dengan ilmu dan adab yang baik, maka debat diperbolehkan. Sebagaimana Ibnu Abbas ra berdebat dengan orang-orang Khawarij di masa kekuasaan Ali bin Abi Thalib ra dan menyadarkan sekitar dua ribu pengikut Khawarij.

Transkrip Dialog

Sepertinya sebelum ini ada percakapan perkenalan antara Dicky dan Perdana. Transkrip tidak disertakan karena tidak relevan dengan diskusi yang diagendakan.

Dicky Zainal Arifin:

…. Kalau bisa mah jangan dadakan, kemaren belum bisa saya datang karena ada acara, ya gimana saya selalu begini, cleng kaditu cleng kadieu….

Perdana Akhmad:

…Jadi gini kang, maksud kami ingin untuk bertabayun…..

Dicky Zainal Arifin:

Ya….

Perdana Akhmad:

…dan berklarifikasi karena apa, Rasulullah itu jika mendengarkan suatu berita harus klarifikasi dulu, biar tidak terjadi salah paham dan biar tidak terjadi salah persepsi.

Jadi, dalam hal ini kami sudah 6 tahun yang lalu saling diskusi atau berdebat (dengan pihak HI). Maka dari itu, kami dalam hal ini sebagai saudara akang sesama muslimlah intinya ingin bertabayun pada beberapa permasalahan.

Ada beberapa artikel. Pertama, tentang percakapan dengan seorang peruqyah dengan Kang Dicky. Kedua, (artikel) ruqyah, tamimmah, liwalah adalah syirik, dan ketiga tentang ruqyah juga Kang Dicky. Dikatakan bahwa ruqyah itu syirik, bahwa ruqyah tidak bisa menjadi sarana untuk mengusir jin. Juga saya banyak mengkritik pada permasalahan Tenaga Dalam dan Ilmu Metafisika

Ketiga artikel itu adalah: Ruqyah, Tamimah, dan Tiwalah adalah syirik, Misi Politis di Balik Ruqyah, Percakapan Seorang Peruqyah dengan Kang Dicky

Dicky Zainal Arifin:

Jadi begini aja, dulu kita itu, makanya kita mengeluarkan itu (ketiga artikel di atas) karena kita diserang duluan. Jadi gini kita dijelek-jelekin Tenaga Dalam itu. Bukan Perdana Akhmad tapi pihak lain gitu.

Perdana Akhmad:

Ooo….

Dicky Zainal Arifin:

Jadi kita dijelek-jelekkan dulu, bahwa Tenaga Dalam itu syirik, bahwa Tenaga Dalam itu sesat, Tenaga Dalam itu dibantu jin dan sebagainya.

Pertama saya diemin, yah biarin aja. Tapi lama-lama semua jadi ngeganggu nih, anak-anak (murid-murid HI bertanya) "Benar ga begini kang?" "Benar gak begitu?” Akhirnya jika bener Tenaga Dalam itu dibantu jin, coba mana jinnya, panggil jinnya, katanya ga bisa ngeliat jin, kok bisa ngevonis gitu.

Tenaga Dalam itu apa sih? Gitu kan. Definisi Tenaga Dalam itu apa? Apakah sesuai dengan apa yang mereka (yang mengatakan Tenaga Dalam itu syirik) definisikan?

Ya udah saya bilang. Ada yang nelpon, cuman nomornya masih 249790, nomor lama itu.

Perdana Akhmad:

Siapa sih?

Dicky Zainal Arifin:

Bilangnya Pak Asep, orang sunda, saya bilang begitu….

Ya udah ada reka…eee saya ketik saya masih inget soalnya.

Terus…. Saya bilang begini. Kalau memang betul Tenaga Dalam itu dibantu jin, itu buktinya dari mana sedangkan definisi Tenaga Dalam itu apa sih? Gitu kan….

Ya kalo menurut kita sih definisi Tenaga Dalam itu kan itu sel. Jadi energi sel yang difokus, jadi ga ada kelanjutan. Cuma dilatih kok, focusing energinya aja. Jadi, misal buat bela diri, buat mukul gitu kan, buat kayak tadi mengobati (pasien menggunakan Tenaga Dalam).

Jadi, kita bisa manfaatkan untuk umat. Jadi ga ada buat ngejago-jago. Nggak ada.

Perdana Akhmad:

Ya….

Jadi seperti ini kang. Ok, Tenaga Dalam itu “pengertian” dari Sel Mitokondria ya. Tapi dari menurut yang saya ketahui bahwa Rasulullah mempunyai Tenaga Dalam yang bisa membelah bulan, dikatakan seperti itu (oleh murid-murid Hikmatul Iman).

Dicky Zainal Arifin:

Kata siapa?

Perdana Akhmad:

Kata murid-murid bapak (kang Dicky)

Dicky Zainal Arifin:

Oh ya? Biarin aja…. Hahaha….

Perdana Akhmad:

Jadi seperti itu. Menurut pengertian kami Tenaga Dalam itu terbagi dua, yaitu Tenaga Dalam yang syar’i dan Tenaga Dalam yang syirik.

Tenaga Dalam dalam perspektif Perdana Akhmad bisa dibaca di artikel Video Penjelasan Ulama: Hakikat Tenaga Dalam Ditinjau Dari Sisi Syari’at.

Pengertian Tenaga Dalam sesuai syari’at adalah Tenaga Dalam yang dihasilkan dari pembakaran sari-sari makanan dalam tubuh manusia (untuk kekuatan fisik manusia) tetapi Tenaga Dalam yang dikatakan klaim seperti bisa mengeluarkan panas, bisa melumerkan besi, sampai klaim-klaim yang sangat wah itu diragukan.

Juga seperti ini, seperti Tenaga Dalam bisa mematahkan (besi dll)….

Dipotong oleh Dicky

Dicky Zainal Arifin:

Gini gini gini…

Jadi begini ya. Apakah itu betul dari murid saya? Itu satu. Bisa saja kita lagi diadu domba. Bisa saja ya, bisa saja, atau gini bisa saja kalo itu dari murid saya, jadi….

Dicky berhenti agak lama

Inilah yang namanya murid. Yang namanya murid….

Makanya, kata saya tabayyun itu dengan saya langsung. Jadi, biar kita enak. Soalnya ga ada emosi. Ga ada unsur emosi, karena yang namanya emosi itu kan harus dikembalikan. Jadi, kita ngobrol. Jadi, ga ada namanya panas-panasan.

Perdana Akhmad:

Jadi menurut akang Rasulullah itu punya Tenaga Dalam atau tidak!

Dicky Zainal Arifin:

Begini, makannya definisi Tenaga Dalam itu apa?

Perdana Akhmad:

Menurut akang jadi dikatakan Rasulullah, tidak hanya Rasulullah bahkan dikatakan bahwa ADHAMA (Nabi Adam as) bisa mempunyai kekuatan Tenaga Dalam 100%

Dicky Zainal Arifin:

Itu Novel ya??

Perdana Akhmad:

Ya. Yang saya juga tanyakan novel ini.

Perdana mengambil novel ARKHYTIREMA dalam tas.

Maaf…. Yang saya tanyakan Kang Dicky ini (novel) dikatakan (oleh) murid-murid HI dari hasil time travel Kang Dicky?

Dicky Zainal Arifin:

Ini novel? Novel apa?

Perdana Akhmad:

Apakah ini (Novel ARKHYTIREMA) merupakan fakta atau fiksi ?

Dicky Zainal Arifin:

Itu Novel.

Perdana Akhmad:

Berarti?

Dicky Zainal Arifin:

Ya… Ini (seperti Novel) Harry Potter lah.

Perdana Akhmad:

Berarti apa fiksi atau fakta?

Dicky Zainal Arifin:

Ya gini aja kalo novel apa?

Perdana Akhmad:

Fiksi kan? Bapak setuju kan?

Dicky Zainal Arifin:

Ya….

Dicky mengangguk-angguk

Kalau novel itu apa?

Perdana Akhmad:

Dalam hal ini saya kritisi jika dihubungkan dengan Nabi Muhammad (HAMMADZ) dengan Nabi Adam (ADHAMA). Dikatakan ARKHYTIREMA bisa hibernasi dan bisa bangun lagi (pada zaman kekacauan).

Kalau ini benar novel berarti titik! Ini fiksi kan?

Dicky Zainal Arifin:

Tenang….

Tenang….

Jangan pake emosi. Tenang, tenang

Dicky menepuk-nepuk dan memegang bahu Perdana

Perdana Akhmad:

Saya orang Sumatera mungkin begitu. Wallahu a’lam. Saya enggak, enggak pake emosi

Dicky Zainal Arifin:

Tenang….

Tenang….

Tangan Dicky tetap menyentuh pundak kiri Perdana.

Perdana Akhmad:

Mungkin ini pembawaan saya….

Dicky Zainal Arifin:

Jadi begini, yang namanya novel ga usah diributinlah, namanya juga novel….

Perdana Akhmad:

Tapi, ini masalah akidah kang.

Banyak yang mengatakan (murid-murid HI) ADHAMA itu Nabi Adam, eee apa…. HAMMADZ itu Nabi Muhammad.

Ini suatu talbis (tipu daya) yang dapat menyesatkan masyarakat banyak.

Dicky Zainal Arifin:

Sesat itu?

Perdana Akhmad:

Menyesatkan sekali!

Dicky Zainal Arifin:

Ooo gitu?

Perdana Akhmad:

Kalau memang (Novel Arhytirema) fiksi ya sudah saya tutup buku, tidak benar seperti itu hanya menghubung-hubungkan ( kisah ADHAMA bukanlah Nabi Adam dalam keyakinan umat Islam) iya kan?

Dicky Zainal Arifin:

Gini ajalah…gini ajalah….

Gini ajalah, gini ajalah.

Sekarang begini, kalau misalnya sebuah novel itu diributkan, kita buang waktulah. Lebih baik waktu kita berguna untuk umat. Dari pada kita berdebat lebih baik kita manfaatkan waktu kita untuk umat Islam. seperti tadilah kan (Dicky sibuk menerapi pasiennya) waktu saya habis untuk umat nih, kasarnya gitukan ya. Terus waktu saya habis bagaimana bisa memakmurkan jangan hanya sekedar berdebat, berkata-kata.

Perdana Akhmad:

Sai Baba memakmurkan umat Pak (Dicky ), orang-orang kafir memakmurkan umat (baik umat islam atau umatnya sendiri). Tapi yang saya bahas ini aqidah! Orang yang banyak berbuat baik tapi kalau aqidahnya jahad atau jelek (amalnya) bagaikan debu yang beterbangan….

Sai Baba Sathya Sai Baba adalah seorang Guru, orang yang mengabdikan hidupnya untuk perbaikan kemanusiaan, orator, pencipta lagu/puisi dan filsuf India Selatan yang sering digambarkan sebagai orang suci. Sai Baba mengatakan tidak pernah membuat agama, ia mengajarkan bahwa semua agama itu sama dan ia tidak suka akan orang yang berpindah agama.

Sai Baba berkata"There is only one religion, the religion of love, there is only one language, the language of the heart, there is only one caste, the caste of humanity, there is only one God, He is omnipresent." Ia merupakan reinkarnasi Sai Baba dari Shirdi.

Sai Baba adalah tokoh yang kontroversial. Dilaporkan memiliki banyak kemampuan seperti melihat masa depan, menyembuhkan orang Islam, dan menciptakan suatu benda dari lambaian tanggannya. Karena ajaran sesat dan klaim kemampuan luar biasanya ini, sebagian muslim percaya Sai Baba adalah salah satu Dajjal yang telah dikabarkan kedatangannya oleh Rasulullah saw.

Sumber: Wikipedia

Transkrip Bagian kedua

Transkrip Dialog Perdana Akhmad (Praktisi Ruqyah) dan Dizky Zainal Arifin (Guru Utama Hikmatul Iman) –Bagian 2

Iklan

6 thoughts on “Transkrip Dialog Perdana Akhmad (Praktisi Ruqyah) dan Dicky Zainal Arifin (Guru Utama Hikmatul Iman) –Bagian 1”

  1. jo..mau nggak diskusi dengan ane
    ane tunggu nt di ITB, waktunya terserah nt
    nanti kita adakan sedikit pembuktian mengenai tenaga dalam
    waktu silahkan nt yang nentukan
    nggak usah takut ane cuma “anak mami” kok
    ane tunggu

  2. Setau saya, diskusi hanya akan menemukan hasil jika berlandaskan dari DEFINISI yang sama terhadap objek kajian. Kalau dari awal definisi sudah berbeda, sampai kapanpun hanya akan jadi debat kusir. Mungkin itu sebabnya di setiap kajian ilmiah atau karya ilmiah, penelitian/kajian selalu di awali dengan Pengertian-pengertian.
    Kalau membahas tentang gajah, harus disepakati dulu definisi gajah. Barulah setelah itu mendiskusikan apakah gajah itu bisa terbang atau tidak. Kalau pihak 1 bilang Gajah punya sayap, yang lain bilang tidak punya sayap, maka sampai mati pun diskusi tidak akan berhasil. Masing-masing akan ngotot dengan pendapatnya. Pihak 1 bilang Gajah Bisa Terbang, Pihak 2 bilang Gajah Tidak Bisa Terbang.
    Begitu juga tentang Tenaga Dalam, Tenaga Metafisika, Ruqyah dsb. Sepakati dulu pengertian hal-hal tersebut, baru diskusikan hukumnya sesat atau tidak. Kadang-kadang rancu, apa yang seharusnya hanyalah EFEK, malah dijadikan DEFINISI. Nggak nyambung karena bahasannya melompat.

    1. Setau saya, diskusi hanya akan menemukan hasil jika berlandaskan dari DEFINISI yang sama terhadap objek kajian. Kalau dari awal definisi sudah berbeda, sampai kapanpun hanya akan jadi debat kusir. Mungkin itu sebabnya di setiap kajian ilmiah atau karya ilmiah, penelitian/kajian selalu di awali dengan Pengertian-pengertian.

      Betul, memang definisi Tenaga Dalam tidak ilmiah. Dalam diskusi ini, bahkan Dicky yang merupakan praktisi Tenaga Dalam tidak bisa menjelaskan definisi Tenaga Dalam secara ilmiah.

      Di dialog ini, definisi Tenaga Dalam dikatakannya sebagai hasil pemfokusan energi sel.

      Ya kalo menurut kita sih definisi Tenaga Dalam itu kan itu sel. Jadi energi sel yang difokus, jadi ga ada kelanjutan.

      Dalam kesempatan lain, definisi Tenaga Dalam akan dikaitkan dengan ATP, Solar Plexus, Kundalini, dan semacamnya.

      Tenaga Dalam adalah suatu energi yang berpusat pada syaraf-syaraf di sekitar ulu hati dan setelah dibangkitkan akan berkumpul pada salah satu bagian tubuh yang disebut dengan solar plexus atau ada juga yang menyebutnya kundalini. Menurut berbagai sumber, Kundalini merupakan bagian dari tubuh manusia yang berbentuk 3.5 lingkaran, terdapat di antara tulang ekor dan kemaluan di bawah pusar. Bentuknya seperti ular yang sedang bergulung atau melingkar. Sebagai catatan, solar plexus bukan merupakan organ tubuh manusia.

      Sumber: Wikipedia Indonesia – Hikmatul Iman Indonesia

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s